Kamis, 09 Mei 2013

TUGAS MANAJEMEN RITEL 6



Nama : Mulyadi
Kelas : 3DD01
NPM : 34210861
KESEMPATAN PASAR
A.  Pasar Potensial Ritel
            Sebuah industri ritel melihat potensi pasarnya, atau bisa juga hal ini dijadikan cara mencari lokasi untuk industri ritel dan faktor-faktor apa saja yg menjadi tolak ukur dari pemain ritel.Ada delapan faktor utama yg perlu kita lihat dan pelajari dengan baik. kita langsung pada potensi-potensi pasar yang harus kita perhatikan.
1.  Population Characteristic
            Populasi karakter ini adalah hal yang terpenting, yang harus dilihat sebagai langkah potensi pasar pertama. Lihat secara detail dari populasi yang ada di area tersebut, baik dalam jumlah perkembangan penduduk, fasilitas yang mendukung industri ritel itu, baik dalam industri sektor lain tapi yang mempunyai multiplier effect dengan usaha ritel kita, seperti industri jasa ataupun industri sosial faktor di daerah itu, seperti rumah sakit,sekolah dll.populasi karakter harus melihat dengan detail, baik dimulai dari segi manusianya, umurnya, latar belakang edukasi mereka, pekerjaan, ras, suku dan juga perkembangan pasar industri yang ada.
2.  Buyer Behavior Characteristics
            Hal lain yang sangat menjadikan sebuah potensi pasar dalam menganalisa pasar yang ada adalah langkah kita melihat dan mengenal kelakuan (behavior) karakter dari pembeli pasar tersebut.sebagai contoh,di salah satu daerah yg akan dibuka sebuah supermaket, kebiasaan dan karakteristik penduduk daerah tersebut dalam berbelanja adalah membawa anaknya, maka sudah jelas jika ingin membuka supermaket di sana,hal pertama yg menjadi acuan dari kebiasaan (behavior) pembeli/penduduk dengan berbelanja bersama anaknya adalah sebuah tempat bermain.
            Maka jika kita membuka supermarket tanpa memperhatikan kebiasaan ini jangan heran kalau pengunjungnya sedikit meskipun harga jual kita sudah menarik/murah karena supermarket kita tidak ada hal yang membuat kebiasaan karakter mereka terpenuhi.kelihatannya simpel, tetapi banyak pelaku ritel tidak menyelidiki kebiasaan karakter pembeli dengan baik, sehingga potensi pasar yang ada tidak tergarap dengan penuh.data-data kebiasaan karakter pembeli ini tidak bisa dilihat hanya dari data perkembangan penduduk tetapi bisa digali dari tim Sales Promotion Girl (SPG) yang sudah ada di daerah pasar tersebut dan sudah tahu kebiasaan karakter pembeli disana.
3.  Household Income
            Kekuatan rata-rata pendapatan keluarga di daerah tersebut juga menjadikan apakah daerah tersebut pasar yg berpotensi untuk industri Ritel kita, karena jika pendapatan keluarga di daerah tersebut tidak terdistribusi dengan baik, maka pasarnya tidak stabil, dan juga peta potensi pasar kita tidak imbang.sebuah daerah dengan penghasilan tinggi secara pendapatan keluarga, tetapi tidak terdistribusi dengan baik, arti kata patron yang terjadi tidak merata akan membuat sebuah fenomena belanja yang berbeda jika pendapatan rata-rata keluarga di daerah tersebut sebanding semua atau equal.
4.  Household Age Profile
            Umur dan kategori dari keluaaga yang berdomisili disekitar potensi pasar yang akan kita bidik juga menjadi pengaruh yang besar. Sebuah potensi pasar di daerah yang berkembang populasi dengan penduduk dengan usia muda akan menjadikan potensi pasar dipengaruhi gaya hidupnya (lifestyle).
5.  Household Composition
            Komposisi keluarga ini sangat berpengaruh dengan potensi pasar. Lihat jika disana keluarga muda dan berubah menjadi komposisi berkeluarga dan mempunyai anak, maka komposisi belanja mereka beralih dari konsumtif gaya hidup ke konsumtif kebutuhan keluarga, dan otomatis gaya pengeluaran belanja menjadi beda.
Itulah sebabnya, industri Ritel seharusnya selalu melihat perkembangan komposisi keluarga ini setelah tahun ke tahun karena daerah mereka karakternya berkembang sesuai umur dari pembeli dan potensi pasar yang ada menjadi bergeser arahnya.
6.  Community Life Cycle
            pasar potensi yang sedang kontinyu bertumbuh karena ini yang sedang pesat-pesatnya dan secara tidak langsung memberikan kesempatanpotensi pasar yang baik dan bergairah untuk masa investasi mereka.
7.  Population Density
            Populasi kepadatan ini bisa dikonotasikan dengan jumlah orang per meter persegi dari potensi pasar yang ada karena ini menjadikan patron dari kekuatan pembeli yang ada.Semakin besar kepadatan populasinya, maka kita sebaiknya menyiapkan luas toko yang sesuai dengan potensi pasarnya. Lihat daerah potensi pasar di perumahan yang baru dengan keluarga yang hanya 2 orang akan berbeda dengan keluarga dengan rata-rata 4 hingga 5 orang.
8. Mobility
            Jika potensi pasar yang ada dipenuhi dengan gaya pembeli atau orang yang mobilitasnya tinggi, maka sudah jelas mereka adalah pasar potensi yang bergerak jadi,bukan acuan untuk selalu datang ke lokasi Ritel kita yang ada di dekat mereka, karena mereka adalah pembeli yang bergerak.
B. Memulai Bisnis Ritel
            Memulai bisnis bagi kebanyakan orang bukanlah hal yang mudah. Hal yang klasik, banyak pertimbangan di sana sini sehingga tak jarang membuat orang urung memulai bisnis.Semestinya memulai bisnis tidak menjadi salah satu sumber ketakutan bagi setiap orang. Untuk menghilangkan ketakutan dalam memulai bisnis, seseorang bisa membuat persiapan bisnis yang matang sehingga dapat menjalaninya dengan optimistis. Salah satu seminar Gerald Abraham salah seorang penasehat bisnis pada sebuah firma hukum, juga pemilik dan direktur sebuah konsultan keuangan di tahun 2006,berisi tentang menjadi sukses dengan memahami aspek penting sebelum memulai usaha,yaitu:
a.  Memahami konsep produk atau jasa secara baik
b.  Membuat visi dan misi bisnis
c.  Perlunya winning, positive dan learning attitude untuk menjadi sukses
d.  Membuat perencanaan dan strategi bisnis yang efektif akan menghindari usaha
e.  Pengetahuan dasar manajemen, organisasi dan sistem akan menghindari usaha
daripada risiko manajemen.
f.   Optimalisasi sumber daya manusia maka 50% usaha Anda sudah berhasil.
g.  Kreativitas, kepemimpinan dan proses pembuatan keputusan sangat penting
h.  Pengetahuan dasar pengelolaan keuangan dan pembiayaan
Pemahaman atas aspek ini adalah sangat penting dalam perkembangan usaha
Seringkali produksi terganggu karena pengelolaan keuangan yang tidak baik seperti kekurangan dana untuk pembelian bahan baku, alat-alat produksi dan lainnya.
i.    Pemasaran, pelayanan dan product brand
Pemasaran merupakan ujung tombak keberhasilan penjualan produk atau jasa. Sebaik apapun produk atau jasa tanpa pemasaran yang baik maka akan sangat sukar untuk meningkat penjualan dan keuntungan usaha.

C.Eksistensi Bisnis Ritel
            Keberadaan pasar modern memberikan banyak pilihan bagi konsumen dalam menentukan lokasi berbelanja.Apalagi belakangan ini jumlahnya juga semakin banyak. Namun, bagi pebisnis pasar tradisional, tentu memiliki arti lain.Ketatnya persaingan bisnis ritel mendorong para pengusaha untuk melakukan terobosan dalam strategi berdagang, baik menyangkut kemasan toko,pelayanan,hingga soal harga produk. Hal ini tentunya akan memberi keuntungan lain bagi para calon pembeli.
            Konsumen juga memegang kendali dalam menentukan hidup matinya sebuah toko modern, bahkan berpengaruh dalam pertumbuhan pasar modern. Bagi pebisnis ritel, karakter masyarakat akan menjadi pertimbangan dalam mengembangkan usahanya.Executive Director dari Retail Measurement Services Nielsen,Teguh Yunanto menuturkan, peritel akan melihat populasi penduduk sebagai salah satu pertimbangan dalam membuka toko.namun, seiring perpindahan lokasi permukiman ke daerah pinggiran, toko cenderung tumbuh di daerah tersebut dan menurun di kota besar.
            Hasil Nielsen Retail Establishment Surveyyang dilakukan pada akhir 2010 secara keseluruhan memperlihatkan lanskap ritel Indonesia menurun 1,3% dilihat berdasarkan jumlah toko. Hingga akhir 2010, tercatat 2.524.111 toko tersebar di Indonesia terdiri atas pasar tradisional dan modern. Sebarannya 57% di Pulau Jawa, 22% di Sumatera, dan 21% sisanya di pulaupulau lain.Dari hasil survei tersebut yang cukup menarik adalah menyangkut persaingan antara pasar tradisional dengan modern.Ritel modern mencakup hal yaitu pendekatan manajemen kategori dan manajemen rantai pasokan.Manajemen kategori dapat dipahami sebagai suatu pendekatan cara penanganan barang pada tingkat kategori melalui klasifikasi yang terstruktur dan sistematis pada bauran produk.sementara itu,paradigma baru dalam manajemen rantai pasokan barang menempatkan retailer dalam suatu titik/mata rantai dalam jalur distribusi/pasokan barang yang bersama-sama dengan pihak supplier menjadi bagian dari proses menyeluruh arus penyediaan barang dari hulu ke hilir.



PROMOSI PENJUALAN YANG BERORIENTASI RITEL

Tugas Manajemen Ritel 9


Nama : Mulyadi
Kelas : 3DD01
NPM : 34210861
PROMOSI PENJUALAN YANG BERORIENTASI RITEL
A.PENGANTAR 
Promosi perdagangan merupakan setengah dari setiap dolar yang ditanamkan oleh produsen untuk mempromosikan produk-produk baru dan yang telah ada. Produsen mengarahkan promosi perdagangan kepada para grosir, pengecer, dan perantara pemasar lainnya (bukan konsumen).
Para produsen mempunyai berbagai tujuan untuk menggunakan promosi penjualan penjualan yang berorientasi perdagangan :
1.Untuk memperkenalkan produk-produk baru atau yang direvisi.
2.Untuk meningkatkan distribusi paket-paket atau ukuran baru.
3.Untuk menyelenggarakan persediaan eceran.
4.Untuk mempertahankan atau meningkatkan luas rak penyimpan barang konsumen.
5.Untuk mendapatkan display di samping lokasi rak yang normal.
6.Untuk mengurangi kelebihan persediaan dan meningkatkan perputaran.
7.Untuk mencapai fitur produk dalam periklanan pengecer.
8.Untuk menghadapi aktivitas pesaing.
9.Untuk menjual sebanyak mungkin kepada konsumen akhir.

B.TRADE ALLOWANCES
Trade allowances digunakan oleh para produsen untuk memberi imbalan kepada para grosir dan pengecer agar melaksanakan kegiatan yang mendukung merek produsen.
 
Dengan menggunakan trade allowances, para produsen berharap dapat mencapai dua tujuan yang saling berkaitan :
1.Meningkatkan pembelian para grosir dan pengecer atas merek produsen.
2.Meningkatkan pembelian konsumen atas merek produsen dari pengecer.

Bentuk-bentuk Utama Trade Allowances :
1.Slotting Allowances – Bentuk ini berlaku pada situasi di mana produsen berusaha agar salah satu mereknya (khususnya merek baru) diterima oleh pengecer.
2.Bill-Back Allowances – Pengecer akan menerima allowances jika mengiklankan merek-merek produsen atau menyediakan display khusus.
3.Off-Invoice Allowances – Bentuk ini merupakan deal atau transaksi yang dilakukan secara periodik yang memungkinkan para grosir dan pengecer untuk mengurangi suatu jumlah tertentu dari faktur, dengan kata lain yaitu pengurangan harga sementara atas merek tertentu.
 

C.USAHA-USAHA UNTUK MEMECAHKAN MASALAH PROMOSI PERDAGANGAN
Karena promosi perdagangan menimbulkan ketidakefisienan, menciptakan biaya distribusi miliaran dolar, secara ekonomis tidak menguntungkan bagi para produsen, dan dapat menaikkan harga bagi konsumen, maka berbagai usaha telah dilakukan untuk mengubah cara bisnis dijalankan, khususnya dalam industri bahan pangan.

Efficient Consumer Response (ECR)
Efficient Consumer Response (ECR) adalah konsep manajemen bisnis yang luas dan berorientasi pada peningkatan efisiensi dan penurunan biaya dalam industri bahan pangan. Tujuan ECR adalah untuk meningkatkan efisiensi dalam industri bahan pangan di antara semua pihak (produsen, grosir, broker, dan pengecer) dan mengurangi biaya bagi semua orang, khususnya konsumen akhir. ECR juga bertujuan mengurangi pengeluaran yang besar untuk promosi perdagangan.

Manajemen Kategori
Manajemen kategori (category management) menjelaskan hubungan kerja antara para produsen dan pengecer yang mencoba menemukan cara agar kedua pihak dapat meraih keuntungan.
Tahap-tahap dalam proses pengimplementasian manajemen kategori :
1.Tinjauan kategori.
2.Konsumen sasaran.
3.Perencanaan perdagangan.
4.Penerapan strategi.
5.Evaluasi hasil.

Everyday Low Pricing (EDLP)
EDLP(M) adalah bentuk penerapan harga di mana produsen akan mengenakan harga yang sama untuk merek tertentu hari demi hari. Ada tiga alasan utama mengapa beberapa pengecer menolak penetapan harga EDLP :
1.Banyak pengecer telah membentuk infrastruktur distribusi untuk memanfaatkan harga tinggi-rendah.
2.Terdapat beberapa bukti bahwa penetapan harga EDLP(M) hanya menguntungkan produsen jika harga produk mereka dalam kondisi ini lebih tinggi dibandingkan harga pengecer yang membayar EDLP(M), bukan tinggi-rendah.
3. Penerapan harga EDLP(M) merugikan bisnis eceran.

Program Pay-for-Performance
Pay-for-performance adalah bentuk trade allowance yang memberi imbalan kepada pengecer untuk menjalankan fungsi utamanya menjustifikasi penawaran trade allowance oleh konsumen. Program pay-for-performance meliputi tiga segi, yaitu :
1.Produsen menetapkan suatu periode yang telah disepakati bersama dengan pengecer, di mana pengecer akan menerima allowance atas semua kuantitas merek yang dipromosikan yang telah dijual kepada konsumen pada harga deal.
2.Data milik pengecer akan memverifikasi jumlah merek yang dipromosikan yang telah terjual selama periode ini pada harga deal.
3.Produsen akan mengurangi penurunan margin yang dialami pengecer karena menjual sejumlah unit tertentu.

Account-Specific Marketing
Account-specific marketing adalah terminologi deskriptif yang menggambarkan kegiatan promosi dan periklanan yang diminta produsen atas account-account ritel khusus. Konteks promosi yang digunakan adalah off-invoice allowance, karena kegiatan promosi produsen hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan account ritel khusus. Karena account-specific marketing memerlukan banyak usaha, baik dalam pengembangan maupun implementasi dan juga mahal, maka masa depan praktik tersebut sangat tidak pasti.

D. PERIKLANAN KOOPERATIF DAN PROGRAM DUKUNGAN PENJUAL
Promosi perdagangan terjadi apabila produsen barang-barang dagangan bermerek membayar sebagian beban yang dikenakan pengecer ketika mengiklankan merek-merek produsen, baik program dukungan penjual maupun periklanan kooperatif berkaitan dengan hubungan periklanan antara produsen dan penjual kembali. Suatu perbedaan mendasar antara keduanya adalah bahwa program periklanan kooperatif dimulai oleh produsen, sementara program dukungan penjual dimulai oleh pengecer.

Periklanan Kooperatif
Periklanan kooperatif merupakan perjanjian antara produsen dan penjual kembali (baik pengecer maupun distributor industri) di mana produsen akan membayar semua atau sebagian biaya periklanan yang dilakukan oleh penjual kembali atas produk-produk produsen.
 
Unsur-unsur dalam periklanan kooperatif:
1.Periode waktu yang ditentukan.
2.Akrual : Pengecer menerima dari produsen sejumlah dana periklanan, yang disebut akun akrual (accrual account) untuk biaya iklan yang dikenakan.
3.Pangsa pembayaran.
4.Petunjuk kinerja.
5.Tagihan pembayaran kembali.

Program Dukungan Penjual
Bertentangan dengan periklanan kooperatif, program dukungan penjual (vendor support program/VSPs) diprakarsai oleh pengecer. Pengecer menciptakan dolar periklanan dengan menggunakan powernya atas produsen, atau penjual, yang tergantung pada pengecer demi keberhasilan pasarnya.

E.KONTES DAN INSENTIF PERDAGANGAN
Program kontes dan insentif dikembangkan oleh produsen untuk mendorong kinerja yang lebih baik dari para manajer ritel dan waraniaga mereka. Jika kontes berkaitan dengan pemenuhan tujuan penjualan, maka insentif perdagangan diberikan kepada para manajer ritel dan waraniaga untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu.
 
Jika dikemas dengan benar, maka kontes dan insentif perdagangan dapat melayani kepentingan produsen dengan baik. Namun demikian, program tersebut tidak dapat melayani kepentingan pengecer atau konsumen. Misalnya, push money dapat menyebabkan para waraniaga ritel terlalu agresif membujuk konsumen agar membeli merek tertentu. Karena alasan ini, banyak toko-toko menerapkan kebijakan yang mencegah para manajer dan waraniaga mereka untuk menerima segala bentuk insentif dari para produsen atau pabrikan.

TUGAS METODE RISET BISNIS JURNAL 2

Analisis Asuransi Kendaraan Bermotor(AKB)

Nama : Mulyadi

Npm / Kls : 34210861 / 3DD01

TUGAS JURNAL 2
Tema : Produk Asuransi

1.1. Latar Belakang
Perkembangan industri yang maju dengan mengikuti perkembangan teknologi adalah salah satunya adalah industri otomotif. Seiring dengan majunya industri otomotif maka industri finansial yang juga mengalami perkembangan adalah industri Asuransi Kendaraan Bermotor (AKB). Perkembangan AKB di Indonesia cukup signifikan. Berdasarkan Laporan yang dikeluarkan oleh Bappepam – LK disebutkan bahwa total premi bruto perusahaan asuransi kerugian di Indonesia pada tahun 2008 adalah sebesar Rp 26.933,80 milliar. Premi bruto tersebut mengalami kenaikan sebesar 22 % dari tahun 2007. Kenaikan premi bruto tersebut tidak merata untuk seluruh lini usaha berdasarkan data Desember 2007 maka lini usaha yang mengalami kenaikan terbesar adalah harta benda dengan kenaikan sebesar 20,76%, kendaraan bermotor dengan kenaikan sebesar 9,15%.
Terkait perkembangan industri asuransi kerugian khususnya pada lini usaha Asuransi Kendaraan Bermotor maka pada tanggal 29 Juni 2007, Menteri Keuangan Sri Mulyani secara resmi mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 74/PMK.010/2007 tentang Penyelenggaraan Pertanggungan Asuransi Pada Lini Usaha Asuransi Kendaraan Bermotor (selanjutnya disingkat menjadi PMK No. 74/2007). Lahirnya PMK No. 74/2007 merupakan sebuah proses panjang yang dilakukan oleh Departemen Keuangan berdasarkan desakan dari
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), khususnya penyelenggara asuransi kendaraan bermotor yang diharapkan dapat menjadi solusi dari gejolak yang terjadi dalam industri asuransi Indonesia. Kesepakatan tarif tersebut dianggap mendesak oleh AAUI untuk mengatasi kondisi yang digambarkan mereka sebagai perang tarif.
Argumen yang diajukan AAUI untuk melatarbelakangi kondisi utama yang mendorong lahirnya PMK No. 74/2007 adalah terjadinya perang tarif di kalangan pelaku usaha asuransi yang memiliki lini bisnis asuransi kendaraan bermotor. Beberapa faktor penyebab “perang tarif” yang terjadi dalam harga premi yang ditawarkan dalam industri asuransi kendaraan bermotor adalah :
1.      Rendahnya entry barrier menyebabkan pemain terlalu banyak. Menurut data Bapepam – LK per-Desember 2008 tercatat bahwa jumlah perusahaan perasuransian yang memiliki izin usaha untuk beroperasi di Indonesia adalah 371 perusahaan terdiri dari atas 144 perusahaan asuransi dan reasuransi dan 227 perusahaan penunjang asuransi. Perusahaan asuransi dan reasuransi terdiri dari 45 perusahaan asuransi jiwa, 90 asuransi kerugian, 4 perusahaan reasuransi, 2 perusahaan penyelenggara program asuransi social dan jaminan sosial tenaga kerja dan 3 perusahaan penyelenggara asuransi untuk pegawai negeri sipil (PNS) dan TNI/POLRI. Untuk perusahaan asuransi jiwa dan perusahaan asuransi kerugian, jumlah perusahaan per- Desember 2008 ini merupakan jumlah yang terkecil untuk 5 (lima) tahun terakhir.
2.      Lini kendaraan bermotor merupakan pendapatan utama asuransi kerugian. 1 Laporan Evaluasi dan Kajian Dampak Kebijakan Persaingan Usaha dalam Industri Jasa Asuransi Kendaraan Bermotor (2007), KPPU, Jakarta, hal. 48 – 52.
3.      Peningkatan penjualan kendaraan bermotor.
4.      Produk asuransi kendaraan bermotor memiliki value proposition tidak unik - karakteristik unik pasar asuransi adalah banyaknya pihak yang terlibat dalam menghubungkan penanggung dengan tertanggung, mulai dari agen, broker, bank, perusahaan pembiayaan hingga pihak ketiga yang mewakili institusi dalam penutupan obyek. Timbulnya perantara dalam pasar asuransi karena hingga saat ini transaksi penutupan polis baru akan terjadi jika penanggung datang ke calon tertanggung Setelah diberlakukan mulai tanggal 1 September 2007, gejolak terjadi dengan ditandai beberapa stakeholder industri asuransi kendaraan bermotor seperti perusahaan pembiayaan, agen, produsen otomotif dan broker asuransi, secara serentak mengajukan keberatannya bahwa akibat kebijakan tersebut asuransi kendaraan bermotor menjadi mahal dan merugikan konsumen. Akan tetapi melalui PMK No. 74/2007 sesungguhnya perusahaan asuransi diperbolehkan untuk menetapkan premi asuransi berdasarkan database/profil risiko dan kerugian yang mereka miliki. Tetapi bagi yang tidak memiliki database, maka perusahaan asuransi harus mengikuti tarif referensi yang telah ditetapkan Pemerintah melalui PMK No. 74/2007.
Pertimbangan yang mendasari regulasi ini adalah dalam rangka memberikan perlindungan yang lebih baik kepada tertanggung asuransi kendaraan bermotor, sehingga diperlukan tingkat premi yang wajar yang tidak memberatkan tertanggung dan tidak bersifat diskriminatif. Pertimbangan lainnya adalah dalam rangka memudahkan regulator dalam melakukan pengawasan kepada perusahaanperusahaan asuransi, agar mereka menegakkan praktik usaha yang sehat dalam pemasaran asuransi kendaraan bermotor, khususnya dalam penetapan premi dan pembentukan cadangan teknis. Sehingga kekhawatiran pemerintah selaku regulator dapat diminimalisir karena perusahaan tetap dapat menjaga tingkat solvency untuk membayar klaim konsumen.
1.2. Perumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang masalah sebagaimana diuraikan sebelumnya tersebut, maka permasalahan yang akan dicermati dalam penelitian ini adalah : Dasar regulasi tarif referensi (PMK 74/PMK.010/2007) yang dikeluarkan pemerintah apakah memperhatikan kondisi pasar dalam industri asuransi kendaraan bermotor.
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kondisi pasar industri asuransi kendaraan bermotor dikaitkan dengan dikeluarkan regulasi tarif referensi (PMK 74/PMK.010/2007).
.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada pihakpihak
terkait, yaitu :
1.      Sebagai masukan dalam perumusan regulasi dan kebijakan pemerintah dalam industry Asuransi Kendaraan Bermotor sehingga memberikan jaminan kepastian persaingan yang sehat dalam industri ini;
2.      Memberikan sumbangan pemikiran dalam dunia akademis untuk melanjutkan kajian lebih lanjut dan mendalam tentang persoalan-persoalan yang menyangkut konsentrasi pasar, persaingan dan perkembangan kebijakan dan industri Asuransi Kendaraan Bermotor di masa-masa mendatang.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Untuk memfokuskan ruang lingkup penelitian maka diperlukan pembatasan penelitian dan permasalahan yaitu periode penelitian akan akan difokuskan pada data perolehan premi netto dan klaim netto perusahaanperusahaan asuransi kerugian yang mempunyai lini usaha asuransi kendaraan bermotor dari tahu 1987 s/d 2007 serta regulasi terkait yang dikeluarkan pada periode tersebut.
1.6. Metodologi Penelitian
Untuk mempermudah proses penelitian dalam penelitian ini, maka berikut penjelasan mengenai metodologi penelitian yang digunakan :
1.6.1. Metode Penelitian
Dalam melakukan penelitian untuk menyusun penelitian ini maka metodologi penelitian yang menggunakan pendekatan mengukur tingkat konsentrasi pasar dalam struktur industri Asuransi Kendaraan Bermotor yang didasarkan pada tingkat konsentrasi pasar yang diukur dengan menggunakan rumusan Concretation Ratio (CR) dan The Herfindahl-Hirschman Index (HHI) terhadap perolehan pendapatan Premi Netto pada perusahaan asuransi kerugian yang memiliki lini usaha asuransi kendaraan bermotor.
Adapun indikator yang akan diuji dalam penelitian ini adalah total penjualan yang didapat dari perolehan premi netto dan jumlah perusahaan asuransi kendaraan bermotor yang tutup. Untuk mendukung uji terhadap indikator tersebut maka perangkat analisa juga menggunakan teori oligopoly Model Bertrand yang berbasis oligopoly pricesetting. Dengan mendasarkan teori Oligopoly Model Bertrand yang berbasis Price-setting yang dikembangkan pada tahun 1883. Dikembangkan oleh Stephen Martin (Martin : 1994), pasar oligopoly dapat dibedakan pada fokus produk yang dihasilkan oleh pelaku pasar dikelompokan menjadi 2 (dua) yaitu :
1.      Homogenous Product
·         Apabila produk tersebut merupakan subtitusi sempurna
·         harga merupakan dimensi tunggal yang sangat penting dimana pelaku usaha menghasikan produk homogenous bersaing
·         apabila jumlah pelaku usaha sedikit, keberadaan barang homogenous dapat memfasilitasi collusion
2.      Differentiated Product
·         produk didiferensiasikan oleh para pelaku usaha dalam upaya mendapatkan harga yang lebih tinggi dan atau meningkatkan penjualan.
·         diferensiasi dapat terjadi dalam bentuk penampilan fisik, kualitas, ketahanan, layanan tambahan (misalnya jaminan, layanan purna jual, informasi), citra dan lokasi geografik
·         diferensiasi produk berbeda dengan produk yang heterogen (heterogeneous product). Produk yang heterogen mengacu pada produk yang berbeda dan tidak mudah disubstitusi sedangkan diantara produk didiferensiasi terdapat kemungkinan adanya substitusi.
Adapun Premi Netto digunakan sebagai data pengukuran market share karena Premi Netto dianggap mencerminkan scope pendapatan yang lebih khusus pada lini usaha perusahaan asuransi. Oleh karena itu indikator pertama adalah total penjualan yang didapat dari perolehan premi netto dan indikator kedua jumlah perusahaan asuransi kendaraan bermotor yang tutup.
·         Indikator total penjualan disini juga merupakan keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan yang didapat melalui perolehan Premi Netto. Secara umum keuntungan (profit) perusahaan dihitung melalui Total Revenue (TR) dikurangi Total Cost (TC). Untuk itu, TC diasumsikan nol (ceteris paribus) untuk menganalisa perkembangan keuntungan dalam industri asuransi kendaraan bermotor;
·         Indikator penurunan jumlah perusahaan (perusahaan tutup), indikator ini mengacu pada perusahaan asuransi kendaraan bermotor yang ditutup oleh regulator karena tidak dapat membayar klaim konsumen (insolvent), dari segi ekonomi perusahaan mengalami return yang negatif sehingga terjadi ketidakseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran.
1.6.2. Teknik Pengumpulan Data
Data yang diproses dalam penelitian ini dikumpulkan dengan melakukan studi pustaka dan studi deskriptif. Dimana Studi Kepustakaan, studi kepustakaan dimaksudkan untuk mengkaji berbagai literatur yang berhubungan dengan tujuan penelitian. Substansinya menyangkut teori, alat analisa, maupun data terkait lainnya dalam industri asuransi kendaraan bermotor. Penelitian ini memanfaatkan semaksimal mungkin data-data sekunder yang sudah ada, baik yang sudah terpublikasikan melalui instansi resmi seperti Departemen Keuangan, Asosiasi Asuransi Indonesia, Bappepam – LK ataupun data-data hasil publikasi cetakan maupun data pada situs-situs dari lembaga pengatur persaingan usaha serta berbagai instansi, media terkait lainnya seperti dari pengunduhan (downloading) dari situs internet.
Sedangkan studi Deskriptif, dilakukan dengan tujuan untuk menyajikan deskripsi data. Bentuknya berupa tabulasi data, penyajian data dalam bentuk grafik. Dengan analisa ini akan dapat diketahui antara lain tingkat konsentrasi struktur pasar industri asuransi kendaraan bermotor, perusahaan Asuransi Kendaraan Bermotor untuk melihat kewajaran penerapan regulasi tarif premi.
1.6.3. Tahapan Penelitian
Untuk menjamin terciptanya kerangka pemikiran yang logis dalam penelitian ini, maka penelitian ini dilakukan dengan tahap – tahap sebagai berikut :
i.            indentifikasi fakta – fakta yang relevan sebagai latar belakang dalam menentukan topik penelitian dan masalah penelitian yang penting dan menarik untuk dikaji;
ii.            Pengumpulan data sekunder yang diperoleh dari regulasi terkait dan data – data pendukung lainnya;
iii.            Pengolahan data dengan menggunakan pendekatan penghitungan tingkat konsentrasi total pendapatan melalui total penjualan (perolehan Premi Netto) dan penghitungan tingkat konsentrasi industri asuransi kendaraan bermotor (CR dan HHI) serta indikator jumlah perusahaan yang sudah ditutup oleh regulator. Analisa juga didukung berdasarkan prinsip teori Oligopoly Model Bertrand yang berbasis Price-setting;
iv.            Analisa dan interpretasi terhadap hasil pengolahan data yang dapat menunjukkan hubungan antara regulasi yang diaplikasikan dengan prinsip teori yang digunakan dalam penelitian ini;
v.            Penarikan kesimpulan dari analisa dan interpretasi hasil pengolahan data;
vi.            Penyusunan saran mengenai regulasi yang berkaitan dengan kegiatan industry asuransi kendaraan bermotor.

Budaya-budaya Usaha yang cukup lama (Turun-temurun)

Tugas Etika Bisnis
Nama : Mulyadi
Kelas : 3DD01
NPM :34210861

            Usaha yang akan saya bahas adalah usaha pancong yang beralamat di Jl. Nusantara Beji-Depok . Jenis usaha yang didirikan adalah usaha jasa dibidang kuliner yakni yang lebih spesifiknya lagi adalah usaha makanan pancong. Mengenai usaha turun-temurun tentunya usaha ini adalah usaha yang sudah cukup terbilang lama bayangkan saja dari mulai saya smp kelas 2 sekitar tahun 2006 sampai dengan saat ini usaha tersebut masih berjalan. Bisa di simpulkan berapa lama usaha ini didirikan yakni kurang lebihnya 8 tahun sudah usaha ini berjalan. Sejarahnya pun sudah sangat banyak dilalui oleh usaha pancong tersebut. Sedikit akan saya jelaskan mengenai sejarahnya bagaimana usaha pancong ini berdiri.

            Usaha pancong ini awal mulanya berdiri karena sebuah ketidak sengajaan seorang tukang becak yang biasa disebut kang dadang beliau tukang becak yang sangat ramah di wilayah beji. Setiap ingin pergi untuk mengais rejeki beliau membawa bekal kue pancong yang tidak biasa yakni berbahan dasar tepung terigu, gula, ragi instan, telur, santan dan margarine sebagai olesan saat dimasak dan kopi hitam pekat yang selalu dibawanya untuk sarapan dipagi hari. Karena hampir setiap hari beliau membawa kue pancong beserta kopi hitam pekat tersebut lambat laun teman-teman beliau memesan kepadanya untuk dibawakan kue pancong tersebut. Hari berganti hari semakin banyak teman-teman yang memesan sampai akhirnya beliau mempunyai cukup modal juga tekad untuk membuka usaha bersama sahabatnya yang biasa disebut mang kumis pertamanya yakni warkop pancong yang berada di wilayah Jl. Nusantara Beji-Depok pada tahun 2006. Setiap hari warkop pancong tersebut ramai dihampiri oleh teman-temannya juga orang-orang sekitar. Sehingga beliau berinovasi dan mengembangkan produknya berdasarkan permintaan orang-orang sekitar.
            Produk-produk kue terbaru dari kue pancong tersebut adalah kue pancong susu + meses, kue pancong keju + susu,  tentu rasanya tidak diragukan lagi untuk meneruskan bisnis beliau hingga saat ini. Agar lebih jelasnya lagi saya jelaskan mengenai bauran pemasaran pada warkop pancong kang dadang & mang kumis ini.
Bauran pemasaran :
1.      Produk (Product)
Penjelasan produk ini yang dari dulu hingga saat ini dijual di warkop pancong kang dadang & mang kumis :
a.       Makanan :
·         Pancong : Pancong keju, Pancong susu, Pancong meses, Pancong Keju + susu, Pancong meses + susu.
·         Roti bakar : Roti bakar meses, roti bakar keju+susu, roti bakar milo+susu
·         Mie ala pancong : Mie goreng, mie rebus, mie rebus telur, mie goreng telur
·         Gorengan : tahu isi, bakwan, tempe
·         Bubur kacang ijo khas pancong
b.      Minuman :
·         Kopi : kopi hitam, kopi biasa
·         Milo : milo dingin, milo hangat
·         Sucang (Susu + air bubur kacang ijo) : sucang dingin, sucang hangat
·         Teh botol
·         Soda susu
·         teh manis : teh manis dingin, teh manis hangat
·         Air jeruk : air jeruk dingin, air jeruk panas
2.      Harga (Price)
Mengenai harga warkop pancong ini murah dan gak menyesal dengan rasa dari makanan dan minuman. Rincian dibawa ini berdasarkan harga saat ini.
a.       Makanan :
·         Pancong (Rp. 2.000) : Pancong keju (Rp. 4.000), Pancong susu (Rp. 3.000), Pancong meses (Rp. 3.000), Pancong Keju + susu (Rp. 6.500), Pancong meses + susu (Rp. 5.000).
·         Roti bakar : Roti bakar meses (Rp. 3.000), roti bakar keju+susu (Rp. 6.000), roti bakar milo+susu (Rp. 5.000).
·         Mie ala pancong : Mie goreng (Rp. 3.500), mie rebus (Rp. 3.000), mie rebus telur (Rp. 5.000), mie goreng telur (Rp. 6.000)
·         Gorengan : tahu isi, bakwan, tempe (@Rp. 500)
·         Bubur kacang ijo khas pancong (Rp. 4.000)
b.      Minuman :
·         Kopi : kopi hitam (Rp. 2.000), kopi biasa (Rp. 2.000)
·         Milo : milo dingin (Rp. 7.000), milo hangat (Rp. 5.000)
·         Sucang (Susu + air bubur kacang ijo) : sucang dingin, sucang hangat (@Rp. 2.000)
·         Teh botol (Rp. 3.500)
·         Soda susu (Rp. 3.500)
·         teh manis : teh manis dingin, teh manis hangat (Rp. 2.500)
·         Air jeruk : air jeruk dingin, air jeruk panas (Rp. 3.000)
3.      Tempat termasuk distribusi (Place)
Cara dia menawarkan produk kekonsumen adalah dengan cara distribusi Produsen….Konsumen. Yakni dari Produsen langsung kepada konsumen.
4.      Promosi (Promotion)
Dari segi promosi warkop pancong ini hanya menggunakan pemasaran secara langsung yakni dari mulut kemulut.
5.      Orang (People)
Dari segi orang atau pelayanan dari pelayan warkop itu sendiri dengan selalu menjaga kebersihan, menjaga ucapan, sopan, juga ramah dari dulu hingga saat ini.
6.      Fisik (Physical Evident)
Di lihat dari segi fisik dan bentuknya makanan ataupun minuman pada warkop pancong ini rapi, bersih, menarik dan dari rasa tentunya memuaskan dari dulu hingga saat ini.
7.      Kecepatan (Power)
Untuk dari segi kecepatan tersendiri pelayan pada warkop pancong ini mengutamakan kecepatan untuk menyenangkan pelangganggan tetapi dilihat juga dari segi keramaiannya dari dulu hingga saat ini.